Gardu Traksi (Traction Substation)

Penulis : Muhammad Ridwan, ST.
Engineering & Instalasi Sistem
PT Len Railway Systems

Dipublikasikan : Februari 2013

 

Setiap hari, terdapat penambahan ribuan kendaraan bermotor baru, baik mobil maupun sepeda motor, di wilayah DKI Jakarta. Penambahan jumlah kendaraan bermotor ini akan membuat kondisi DKI Jakarta yang sudah macet menjadi tambah macet. Jika tidak ada langkah penyelesaian kemacetan dalam waktu yang cepat, maka pada tahun 2014 diprediksi DKI Jakarta akan mengalami kemacetan total. Hal ini disebabkan oleh situasi di mana panjang jalan yang ada di DKI Jakarta sudah sama dengan panjang total kendaraan pribadi yang ada. Transportasi massal merupakan solusi mutlak atas permasalahan kemacetan yang ada di DKI Jakarta. Saat ini sudah ada dua moda transportasi massal yang beroperasi di DKI Jakarta, yaitu Kereta Rel Listrik (KRL) dan busway.

 

Kereta Rel Listrik (KRL) merupakan kereta yang sumber daya utamanya menggunakan listrik. Daya Listrik yang dibutuhkan oleh KRL ini akan disuplai menggunakan kawat konduktor yang membentang di bagian atas sepanjang rute KRL tersebut yang disebut dengan sistem catenary atau LAA (Listrik Aliran Atas). Sistem catenary dapat dibagi berdasarkan jenis arus listrik yang mengalir yaitu:

  • Arus searah (DC):
    • 750 V DC
    • 1500 V DC
    • 3000 V DC
  • Arus bolak-balik (AC):
    • 15 kV AC, 16,7 Hz
    • 25 kV AC, 50 Hz

 

Adapun sistem LAA di DKI Jakarta menggunakan sistem arus searah 1500 VDC yang disuplai dari gardu traksi (traction substation). Gardu traksi pertama kali dibangun di Indonesia pada tahun 1925/1926 di Jatinegara dan Ancol dengan menggunakan sistem konfigurasi motor dan generator buatan General Electric. Saat ini, sistem gardu traksi menggunakan teknologi penyearahan silicon rectifier. Selain menggunakan silicon rectifier, untuk dapat mensuplai LAA dengan tegangan 1500 VDC, sistem gardu traksi menggunakan beberapa panel dan komponen seperti: panel 20 kV, panel 6 kV, trafo 20 kV/1200 V, Silicon rectifier, DC Switchgear, trafo 20 kV/6 kV, trafo 20 kV/380 V, trafo 6 kV/380 V, panel AC/DC, baterai dan charger, panel interkoneksi, panel VCP, serta panel LBD. Spesifikasi dari setiap komponen ini bergantun dari daya yang disuplai gardu traksi. Di daerah DKI Jakarta, gardu traksi biasanya memiliki daya bervariasi antara 1500 kW, 3000 kW, atau 4000 KW.

Skema sistem gardu traksi dapat dilihat pada gambar berikut.

 


Sudah banyak proyek gardu traksi yang dikerjakan oleh Len. Proyek gardu traksi yang pertama kali adalah gardu traksi di Parung Panjang (3000 kW) pada tahun 2008. Setahun setelah itu tahun 2009 Len mengerjakan gardu traksi di Maja (3000 kW) dan Cilejit (3000kW). Pada tahun 2010, Indonesia mendapat bantuan pinjaman dari KfW (Kreditanstalt für Wiederaufbau) Jerman, untuk pengerjaan proyek gardu traksi.

 

Len merupakan perusahaan yang ditunjuk pemerintah untuk mengerjakan proyek KfW ini yang meliputi gardu traksi di lokasi Kedung Badak (1500 kW), Cilebut (3000 kW), Bojong Gede (4000 kW), Citayam (4000 kW), Pasar Senen (4000 kW), dan sistem SCADA untuk mengontrol gardu traksi ini secara jarak jauh (remote) di OCC Manggarai. Kemudian di tahun 2011, Len mengerjakan proyek gardu traksi di Lenteng Agung (4000 kW), Pasar Minggu (4000 kW), dan Jatinegara (3000 kW).

 

Pada tahun 2012 ini tim gardu traksi Len sedang mengerjakan gardu traksi di Klender (4000 kW), Pesing (4000 kW) dan Tangerang (4000 kW). Pada awalnya proyek gardu traksi ini menggunakan sistem yang semuanya built up dari luar negeri seperti sistem dari Siemens atau Secheron. Namun semenjak proyek gardu traksi Jatinegara, tim gardu traksi Len sudah bertindak sebagai sistem integrator serta memproduksi sendiri panel-panel kontrol seperti panel interkoneksi, panel VCP (Visual Control Panel) serta panel LBD (Linked Breaking Device), di samping masih menggunakan produk jadi dari produsen lokal untuk panel 20 kV, panel 6 kV, trafo, serta produk jadi dari produsen luar negeri untuk silicon rectifier dan DC Switchgear.

 

Sebagai sistem integrator, Len bertanggung jawab untuk mengintegrasikan komponen-komponen Gardu Traksi baik dari sistem power maupun sistem kontrol gardu traksi. Proses pengintegrasian mencakup penyambungan input 20 kV dari PLN, penyambungan koneksi antar panel gardu traksi, penyambungan output 1500 VDC ke sistem LAA, serta penyambungan output 6 kV ke sistem PDL. Penyambungan ke sistem LAA dan PDL itu sendiri memerlukan modifikasi jaringan LAA dan PDL yang sudah ada. Semua proses pengintegrasian ini sudah dikuasai oleh tim gardu traksi Len. Di masa yang akan datang, tim gardu traksi Len bekerja sama dengan Divisi Pusat Teknologi dan Inovasi berencana untuk memproduksi sendiri silicon rectifier yang akan dipergunakan di sistem gardu traksi yang akan memberikan nilai tambah yang cukup signifikan.

 

bulen11-0  Gardu Traksi (Traction Substation) bulen11 0