Len Export Produk Persinyalan KA ke Bangladesh

Perjuangan PT Len Industri (Persero) memasuki pasar urban transport mulai membuahkan hasil. Hal ini ditandai dengan dipercayanya Len untuk mengerjakan proyek pembangunan APMS (Automated People Mover System) dan LRT (Light Rail Transit), dimana untuk LRT sendiri terdapat 3 proyek antara lain : LRT DKI Jakarta Koridor 1 (Velodrome – Kelapa Gading), LRT Jabodebek Lintas 1-3, dan LRT Provinsi Sumatera Selatan yang menghubungkan antara Bandara Sultan Mahmud Baharudin II dengan Stadion Jakabaring.

_Kontrak Len - Biswas Bangladesh  Len Export Produk Persinyalan KA ke Bangladesh Kontrak Len Biswas Bangladesh

Len melalui anak perusahaannya PT Len Railway Systems (LRS) bersama Biswas Construction menandatangani proyek pekerjaan selama 1,5 tahun modifikasi persinyalan perkeretaapian Jalur Kota Ishurdi hingga Joydebpur, Bangladesh. Penandatanganan dilakukan oleh Dewayana Agung Nugroho, Direktur Utama LRS dan Muhammad Afsar Ali, Managing Director Biswas Construction di Hotel Savoy Homann Bandung pada hari Kamis, 20 Oktober 2016.

 

LRS menandatangani kontrak dengan salah satu perusahaan lokal tersebut yang telah memenangi tender pekerjaan di Bangladesh dengan Bangladesh Railway (Regulator dan Pemilik Sarana dan Prasarana Perkeretaapian di Bangladesh) sebagai pemilik pekerjaan. Dalam hal ini LRS akan melakukan modifikasi terhadap sistem persinyalan perkeretaapian yang memiliki interlocking jenis VPI.

 

Produk standar persinyalan merek Len seperti Control Console (VDU/LCP), Lampu sinyal LED, Main Distribution Panel dan lain-lain telah siap di-export ke negeri “Tanah Benggala” berpenduduk lebih dari 140 juta jiwa ini. Untuk proyek ini Len akan mendapatkan dukungan dari Alstom Transport Indonesia. Pekerjaan ini juga akan menjadi First Entry bagi Len untuk dapat mengerjakan proyek-proyek persinyalan lain di Bangladesh.

 

Len mencapai kinerja perusahaan di tahun 2015 yang cukup baik dengan membukukan pendapatan sebesar Rp.2,24 Triliun (audited), 33,5 % diantaranya dari bisnis transportasi perkeretaapian. Pendapatan tersebut melebihi dari pendapatan tahun sebelumnya yang sebesar Rp.2,1 Triliun dan mentargetkan pendapatan Rp.2,39 Triliun di tahun 2016.

 

Prospek Export Persinyalan ke Negeri Jiran

 

Selain peluang export ke Bangladesh, prospek juga datang dari Malaysia yang akan melakukan rehabilitasi persinyalan perkeretaapian. Di Malaysia, LRS akan bekerja sama dengan Emrail, salah satu perusahaan Malaysia yang memiliki kontrak pekerjaan dengan KTMB (perusahaan operator perkeretaapian di Malaysia) untuk pekerjaan persinyalan jalur Gua Musang – Tumpat sepanjang 290 Km yang melewati 30 stasiun.

 

Dalam hal ini LRS akan merehabilitasi sistem existing yang rusak karena bencana banjir dengan sistem single track yang secara teknologi lebih sederhana dari sistem double track yang pernah dikerjakan perusahaan.

 

Double Double Track Manggarai-Cikarang, Pertama di Indonesia

 

Saat ini, Len melalui LRS juga sedang membangun sistem persinyalan untuk Paket B1 DDT (double-double track) Manggarai – Cikarang yang memiliki panjang lintasan 34 Km. Serta melewati enam stasiun besar yaitu: Stasiun Manggarai, Stasiun Jatinegara, Stasiun Cakung, Stasiun Bekasi, Stasiun Tambun dan Stasiun Cikarang. Paket ini juga berarti memperpanjang/menambah jalur operasi Kereta KRL dari Bekasi ke Cikarang.

 

Proyek pembangunan DDT (double-double track) merupakan proyek yang terbagi menjadi tiga paket yakni Paket B1, Paket A, dan Paket B21 yang telah dimulai sejak tahun 2013.

 

Pekerjaan di paket ini berupa pembangunan sinyal double track lintas Manggarai-Cikarang. Dan untuk Paket A dan Paket B21 akan dikerjakan setelah paket ini selesai. Paket B1 akan memodifikasi sistem persinyalan SSI milik Alstom yang dipasang tahun 90-an ke sistem K5B milik Kyosan Jepang. Namun selain interlocking, hampir semua produk perkeretaapian lainnya (baik indoor maupun outdoor) menggunakan produk dalam negeri buatan PT Len Industri.

 

Perubahan double track menjadi double-double track sendiri bertujuan memisahkan kereta commuter dengan kereta antar kota. Untuk Bekasi ke arah barat, Bekasi-Jatinegara-Manggarai, adalah paket berikutnya (Paket A dan Paket B21), sehingga kapasitas angkut kereta api bisa menjadi jauh lebih banyak lagi. Dari segi keamanan, juga menjadi lebih safety.

 

Len bersama Satuan Kerja Double-Double Track  Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan serta perusahaan Jepang, Mitsubishi Heavy Indonesia dan Sumitomo Corporation yang tergabung sebuah Joint Operation (Missubishi Sumitomo JO/MSJO) menandatangani Paket B1 ini dengan dana pinjaman dari Jepang senilai Rp 215 milyar (termasuk konstruksi perkeretaapian).

 

Meskipun posisi Len sebagai sub-kontraktor MSJO tersebut, namun mereka banyak membeli dan menggunakan produk substation, power distribution system, signalling system dan sistem telekomunikasi asli buatan Len.

 

Produk teknologi tinggi ini antara lain Automatic Block Signal (ABS), location case, level crossing, LED signal, control console, maintenance console, Train Supervisory Console (TSC), Main Distribution Panel (Power Panel) serta interface rack.

 

Pengerjaan paket ini memang cukup lama, karena kondisi lalulintas keretanya yang sangat padat. Selain itu, mengganti sistem interlocking elektrik ke elektrik memang sangat sulit jika dibandingkan sistem interlocking mekanik ke elektrik. Dimulai sejak tahun 2013 dan ditargetkan beroperasi di akhir 2016.