Engineer Sinyal dan Telekomunikasi Kereta Api Dunia Berkumpul di Bandung

IRSE dukung Indonesia untuk maksimalkan pemanfaatan teknologi train control

 

Bandung, 26 Nopember 2015 – Hari ini organisasi profesi S&T (Signal & Telecommunication) Kereta Api dunia, IRSE (Institution of Railway Signal Engineer), menggelar Seminar IRSE 2015 bertajuk “Train Control Signaling Technology Solutions” di Bandung. Seminar yang difasilitasi oleh IRSE chapter Indonesia dihadiri oleh para stakeholder terkait dari Kementerian Perhubungan, Kementrian Komunikasi dan Informatika, operator seperti MRT Jakarta dan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), juga Stakeholder negara-negara ASEAN.

 

Seminar menghadirkan antara lain operator Malaysia Prasarana Sdn Bhd untuk berbagi pengalaman dalam mengoperasikan teknologi Train Control di Malaysia dan Singapura yang telah lebih dahulu menggunakan teknologi Train Control di Lintas Kereta Api perkotaan dan jarak jauh. Teknologi tersebut memungkinkan hampir tidak pernah terjadi kecelakaan tabrakan kereta api di negara-negara tersebut.

 

“Pemerintah Indonesia saat ini melakukan pembangunan sistem transportasi massal seperti MRT, LRT serta kereta api super cepat yang menghubungkan Jakarta – Bandung. Pembangunan ini tentunya memerlukan keahlian di bidang sinyal, telekomunikasi dan sistem manajemen transportasi. Apalagi setelah selesainya pembangunan jalur ganda kereta api lintas utara Jawa, lalu lintas kereta meningkat secara signifikan. Perlu dilakukan peningkatan keamanan untuk menghindari kelalaian masinis dimana teknologi train control dapat menjadi solusi bagi isu keamanan tersebut,” jelas Ir. Adi Sufiadi Yusuf, Chairman IRSE chapter Indonesia.

 

IRSE Indonesia melihat perkembangan teknologi persinyalan dan telekomunikasi di Indonesia saat ini telah memasuki teknologi Train Control, yaitu sistem pengamanan dan operasi perjalanan Kereta Api yang mencakup pengendalian sarana kereta api pada sistem pengeremannya maupun pengendalian kecepatan. Dengan menggunakan teknologi Train Control, kelalaian masinis yang dapat menyebabkan kecelakaan kereta api dapat dihindari dan lebih lanjut dapat melakukan pengaturan-pengaturan terkait efisiensi operasi.

 

Teknologi Train Control di Indonesia dimulai dengan pemasangan ATP (Automatic Train Protection) di Jalur Kereta Api Lintas Utara beserta regulasinya yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan. ATP adalah salah satu bagian dari teknologi Train Control yang dapat mengendalikan Kereta Api secara otomatis apabila terjadi kelalaian masinis sehingga Kereta Api tidak akan melanggar sinyal.

 

Untuk itu, IRSE Indonesia aktif melakukan kegiatan pengembangan SDM, diantaranya sebagai inisiator pengembangan kompetensi sinyal dan telekomunikasi perkeretaapian. Disela-sela seminar IRSE juga dilaksanakan penandatangan MoU antara IRSE Indonesia-ITB-Birmingham University UK untuk bekerjasama dalam pembentukan Program Pendidikan S2 bidang Train Control di Fakultas Teknologi Industri ITB dan Birmingham University (Double Degree).

 

Pendidikan S2 ini sangat penting untuk mengantisipasi kebutuhan tenaga ahli bidang perencana sistem Train Control untuk kebutuhan pembangunan LRT, MRT, dan Mainline di Indonesia. IRSE Indonesia berharap tenaga lokal dapat berperan dalam pembangunan Perkeretaapian, sehingga akan diperoleh efisiensi pada tahapan pekerjaan konstruksi, masa operasi dan pemeliharaan untuk mewujudkan sistem Transportasi Nasional yang handal dan berdaya saing.

 

IRSE juga sedang menjajaki kerjasama dengan instansi pemerintahan antara lain Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Perhubungan. Kerjasama ini nantinya berupa penyiapan standar kurikulum di bidang teknologi persinyalan dan telekomunikasi kereta api khususnya untuk lembaga pendidikan di bawah kordinasi BPSDM Kementerian Perhubungan diantaranya Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) Bekasi dan Akademi Perkeretaapian (API) madiun

 

Selain itu, IRSE Indonesia juga akan melaksanakan program inisiatif untuk terbentuknya Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) bidang persinyalan dan telekomunikasi kereta api yang terakreditasi BNSP. Lembaga ini berlandaskan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang persinyalan dan telekomunikasi kereta api yang mengadopsi standar kompetensi IRSE yang sudah diakui di dunia. Kedepannya LSP juga akan menerbitkan sertifikasi bagi lulusan Program Double Degree ITB – Birmingham University, dan juga lulusan dari program studi pada lembaga pendidikan di bawah BPSDM Kementerian Perhubungan dan para professional di bidang persinyalan dan telekomunikasi kereta api. Sertifikat ini diakui secara nasional maupun internasional. Naum hal ini berkaitan erat dengan kesiapan Indonesia untuk membangun kemandirian di sektor perkeretaapian menjelang berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir tahun ini.

 

IRSE Indonesia Chapter menilai potensi dalam negeri untuk pengembangan perkeretapian modern sangat besar. Indonesia memiliki banyak SDM dan perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing. IRSE Indonesia ingin memperkenalkan profesi S&T pada mahasiswa sehingga minat terhadap profesi S&T yang saat ini rendah dapat meningkat di kalangan mahasiswa. Melihat program-program pemerintah di bidang perkerataapian sampai tahun 2030 terdapat kesenjangan yang cukup besar antara kebutuhan tenaga kontruksi S&T Perkereataapian dan ketersediaannya. IRSE Indonesia akan berusaha memberikan kontribusi yang besar untuk menghadapi tantangan pembangunan ini.

 

Melihat teknologi perkeretaapian di Indonesia, IRSE melihat kemampuan dan kapasitas dalam negeri sudah mampu mengerjakan Mega Proyek Double Track Lintas Utara dengan total lebih dari 500 KM dengan SDM Dalam negeri dan perusahaan lokal BUMN dan Swasta Nasional. Bahkan dari sisi waktu, ternyata dengan mengandalkan sumber daya dalam negeri proyek tersebut dapat diselesaikan dalam waktu 2 (dua) tahun. Biasanya dengan menggunakan tenaga asing penyelesaian proyek serupa akan memakan waktu 3 (tiga) hingga 4 (empat) tahun karena tentunya diperlukan tenaga-tenaga ekspatriat dan koordinasi yang lebih kompleks bagi perusahaan asing dengan kantor pusatnya yang berada di luar negeri.

 

Di Indonesia terdapat beberapa pelaku industri perkeretaapian yang sudah memiliki pengalaman untuk membangun persinyalan dan telekomunikasi. Indonesia juga memiliki Engineer lokal di bidang S&T perkeretaapian yang sudah tergabung juga dalam wadah IRSE Indonesia baik sebagai Member maupun Non-Member seperti Len Inc., Alstom Indonesia, Siemens Indonesia.

 

“Tantangan kedepan adalah teknologi Train Control dimana sinergi antara Universitas, Regulator, Operator dan Lembaga riset sangat diperlukan untuk membangun kapasitas dalam negeri dalam pembangunan LRT, MRT, APMS, AGT dsb. Penggunaan kapasitas dan kemampuan dalam negeri tentunya sangat penting untuk program pemerintah dalam menyediakan sarana transportasi yang aman, nyaman, handal dan berdaya saing,” jelas Adi Sufiadi Yusuf.

 

 

Tentang IRSE

 

IRSE (Institution of Railway Signal Engineers) adalah organisasi profesi Persinyalan dan telekomunikasi kereta api yang didirikan di Ingggris pada tahun 1912. Organisasi profesi ini turut berkontribusi dalam perkembangan teknologi di bidang persinyalan dan telekomunikasi kereta api di dunia selama lebih dari 100 tahun. Selain itu, IRSE juga mengeluarkan lisensi untuk Engineer persinyalan dan telekomunikasi kereta api yang diakui dunia dan selalu dipersyaratkan dalam proyek-proyek internasional di bidang perkeretaapian. Kegiatan lain dari IRSE yaitu turut aktif dalam pengembangan SDM di bidang persinyalan dan telekomunikasi kereta api di banyak negara di dunia, termasuk Indonesia melalui IRSE Indonesia Chapter yang resmi berdiri sejak 2013.

 

IRSE Indonesia Chapter berdiri pada tanggal 30 Juli 2013, yang pada saat itu disetujui sebagai IRSE Indonesia Chapter oleh IRSE Council UK, diawali setelah dikeluarkannya petisi oleh lebih dari 70 orang praktisi dan profesional di bidang persinyalan dan telekomunikasi erkeretaapian (sebagian sudah menjadi anggota IRSE dengan afiliasi ke IRSE Inggris) yang berkeinginan membentuk wadah profesi S&T di Indonesia yang mengacu kepada skema IRSE.