IRSE Indonesia gelar workshop untuk mencari solusi mengoptimalkan komuter Jabodetabek

Jakarta, 21 November 2013 – Assosiasi profesi S&T (Signal & TelecommunicationKereta Api dunia chapter IndonesiaIRSE (Institution of Railway Signal Engineer) Indonesiamenggelar workshop bertema “Commuter/Urban Railway Signaling Technology”. Melalui workshop ini IRSE Indonesia berupaya memfasilitasi interaksi antara para ahli di bidang S&T dengan pihak otoritas pembangunan perkeretaapian guna membantu otoritas dalam merumuskan solusi yang tepat dan menyeluruh sehingga rencana peningkatan kapasitas angkut komuter dari 500 ribupenumpang/hari menjadi 1.2 juta penumpang/hari di tahun 2018 dapat tercapai dan didukung kehandalan dan keamanan sesuai standar yang berlaku. Workshop IRSE ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta dari perusahaan swasta, pemerintah, operator, serta non-member yang berkepentingan pada bidang S&T.

IRSE Indonesia dalam workshop ini bertindak selaku fasilitator yang mempersiapkan format interaksi agar workshop berjalan optimal. Dariworkshop ini diharapkan dihasilkan laporan solusi berbasis produk dari para vendor, maupun solusi umum dari para ahli non-vendor. Laporan hasil workshop ini diharapkan menjadi salah satu referensi penting untuk pengambil kebijakan,” ujar Chairman IRSE Indonesia Adi Sufiadi Yusuf.

IRSE sebagai wadah profesi S&T yang netral dan kredible dengan angota-anggotanya antara lain terdiri dari praktisi S&T berupaya aktif dalam memberikan kontribusi bagi perkembangan perkeretaapian. Untuk itu, IRSE Indonesia menggelar serangkaian program diantaranya adalah menyelenggarakan pelatihan-pelatihan S&T, menyediakan referensi-referensi  dan literatur terkait S&T, focus group of discussion, technical review dan standar-standar S&T, ujian profesi S&T, lisensi untuk standar kompetensi bidang S&T, hingga fasilitator untuk penyelenggaraan Seminar dan Workshop.

Pada workshop terungkap bahwa kondisi S&T komuter Jabodetabek saat ini telah berusia operasional 15 hingga 20 tahun, sehingga dari sisi kehandalan perlu dilakukan kajian apakah masih mendukung operasi kereta hingga 10 tahun kedepan. Program investasi baik penggantian baru maupun program enhancement tentunya tidak boleh dilakukan saat kehandalan sudah sampai mengganggu operasional KA. Tapi harudilihat tren gangguan tersebut.

Bukan berarti kondisi S&T komuter saat ini sangat darurat. Hanya saja harus sudah dicarikan alternatif-alternatif solusinya dan rencana kerjanyauntuk mempertahankan kehandalan dan kapasitas angkut. Pembangunan sistem persinyalan yang baru memerlukan waktu konstruksi 3 tahun, sementara untuk program peningkatan kehandalan dengan platform existing pun perlu waktu 1 hingga 2 tahun sehingga program-program ini harus dijalankan saat kehandalan sistem masih terjaga dalam 2 atau 3 tahun kedepan masa konstruksi.

Untuk pembaharuan S&T dalam arti mengganti sebagian besar peralatan dengan yang baru dengan memperpanjang usia operasional hingga 20 tahun ke depan memerlukan kajian secara menyeluruh dahulu untuk memperkirakan biayanya. Begitu juga program jangka pendek untukmemperpanjang masa pakai hingga 10 tahun kedepan harus dilakukan perhitungan yang cermat termasuk skema pembiayaannya.

IRSE Indonesia siap mendukung optimalisasi komuter Jabodetabek dengan menyediakan SDM S&T yang kompeten. “Apabila ditetapkan penggunaan teknologi baru maka tentunya diperlukan proses transfer knowledge dari vendor ke user akan tetapi itu tidak akan menjadi masalah berarti. Dan apabila enhancement yang dipilih dan platform teknologi existing digunakan, SDM Indonesia sudah familiar hanya perlu penyegarandan pelatihan dan magang tenaga baru,” jelas Adi Sufiadi Yusuf.

IRSE Indonesia baru saja diresmikan pada April tahun ini. Kini IRSE Indonesia telah memiliki 70 anggota. Kehadiran IRSE Indonesia memiliki arti penting dalam pengembangan kompetensi dan profesionalitas SDM Indonesia yang bergerak di bidang sinyal & telekomunikasi kereta api.

Sumber daya manusia merupakan elemen penting utama yang sangat menentukan kualitas, ketepatan waktu, efisiensi biaya dalam pelaksanaan suatu proyek konstruksi sistem transportasi. Aktifitas IRSE Chapter Indonesia pada prinsip-nya menyusun dan melaksanakan program-program untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi SDM serta mempercepat pertumbuhan Tenaga ahli baru di bidang S&T. Dengan tumbuh-nya Tenaga ahli S&T baru yang mempunyai standard kompetensi Internasional ini tentunya akan sangat mendukung terlaksana-nya pekerjaan pembangunan Sistem Transportasi yang aman, nyaman dan berkualitas tinggi serta handal. Ketersediaan tenaga ahli yang memadai itu juga akan meningkatkan kapasitas pemerintah dalam melaksanakan Pembangunan sektor Transportasi Massa ini secara paralel diberbagai kota besar dan tentu-nya lebih efisien pelaksanaan-nya karena dapat mengurangi kebutuhan tenaga ahli dari luar negeri.

Salam,

Komunikasi Korporasi PT Len Industri (Persero)