PT Len Industri (Persero)

SEJARAH SINGKAT

PT Len Industri (Persero) berasal dari Lembaga Elektroteknika Nasional (LEN) yang didirikan pada tahun 1965, merupakan salah satu unit penelitian dan pengembangan di lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mencakup bidang- bidang elektronika, tenaga listrik, telekomunikasi dan komponen.

 

1965 – 1991

PT Len Industri (Persero) berasal dari LEN (Lembaga Elektroteknika Nasional) yang didirikan pada tahun 1965 sebagai salah satu unit penelitian dan pengembangan di lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kemudian menjadi Badan Usaha Milik Negara sebagai entitas bisnis independen pada tahun 1991 dengan nama PT Len Industri (Persero). Ini bertepatan dengan percepatan bisnis dan industri di Indonesia yang pesat dipicu oleh investasi besar dari dalam negeri maupun asing, sebuah gerakan yang dimulai pada awal tahun 1990-an.

 

1991 – 2001

Tantangan utama pada tahap ini adalah perubahan midset dari institusi penelitian menjadi sebuah entitas bisnis professional yang akan selalu berurusan dengan persaingan usaha. SHS (Solar Home System) mulai tersebar diberbagai pelosok tanah air pada 1995 setelah merintis sejak 1985. Len Industri dipercaya menjadi kontraktor utama instalasi peralatan persinyalan pada 1996 setelah merintis sejak tahun 1983. Selain itu, di tengah serbuan dan dominasi teknologi persinyalan luar negeri, teknologi persinyalan Electro Mechanical Interlocking Len dipasang pertama kalinya di Stasiun Tagogapu, Jawa Barat tahun 2001.

Krisis moneter Asia yang dimulai di Thailand pada 1997, tersebar dengan cepat ke seluruh Asia Timur dan menghancurkan ekonomi Indonesia. Selama era ini, bertahan hidup menjadi kunci strategi dengan mengembangkan bisnis consumer good dan menerima berbagai jenis kontrak kerja agar bisnis tetap berjalan.

 

2002 – 2007

Setelah susah payah melewati survival era, perusahaan melakukan business transformation dan management development seiring dengan mulai berperannya Indonesia sebagai kekuatan ekonomi regional. Len Industri memiliki lini bisnis sistem transportasi, sistem navigasi, energi baru terbarukan, telekomunikasi, elektronika pertahanan, dan sistem kontrol.

Keberhasilan transformasi bisnis di era ini ditandai dengan perolehan kontrak kerja sbb:

  • Pembuatan sistem navigasi Kapal Angkatan Laut RI dan peluru kendali anti pesawat terbang, untuk pertahanan laut dan udara akibat embargo suku cadang dari Barat (2004)
  • Sistem Interlocking Elektronik Len diresmikan di Stasiun Slawi pada 22 Februari 2005.
  • Mengeksport pemancar TV VHF hasil karya rancang bangun anak bangsa ke Malaysia (2005)
  • Ratusan SBNP (Sarana Bantu Navigasi Pelayaran) mercusuar bertenaga surya di titik-titik terluar perbatasan Nusantara (2006)
  • Eksport Pemancar TV ke negara tetangga Timor Leste (2007)

 

2007 – 2011

Sejak dicanangkan pada tahun 2007, target One Trilliun Company berhasil dicapai hanya dalam waktu 3 tahun atau pada tahun 2010 dari pendapatan sebesar Rp 150 milyar di tahun 2017. Sebuah pengakuan atas prestasi hasil dari kerja keras seluruh insan Len Industri telah diperoleh.

Apresiasi, penghargaan, dan dukungan Presiden RI kepada PT Len Industri sebagai pemenang Best Company – Rintisan Teknologi Award 2010, kian membangkitkan semangat dalam mewujudkan visi perusahaan menjadi kenyataan.

 

2012 – 2013

Kami berambisi membangun pabrik fotovoltaik (solar cell) pertama di Indonesia, salah satu aspek dari rencana strategis untuk membangun Len Technopark. Yaitu kompleks industri berbasis teknologi tinggi termasuk di dalamnya industri transportasi perkeretaapian, elektronik pertahanan, maupun ICT. Hal ini juga akan memperkuat posisi Len Industri sebagai perusahaan manufaktur.
Pada tahun ini pula perusahaan berhasil mendapatkan kontrak ekspor software kapal perang dari perusahaan besar asal Eropa, tepatnya pada bulan Oktober 2013. Kontrak kerja tersebut memberikan warna baru bagi perusahaan, terutama dalam kiprahnya di sektor pertahanan sekaligus membuktikan bahwa Len Industri telah dipercaya oleh industri pertahanan kelas dunia.

 

2014 – 2015

Perusahaan menerapkan model bisnis investasi dengan membangun IPP (Independent Power Producer) PLTS terbesar dan pertama di Indonesia berkapasitas 5 MWp di Kupang NTT dan diresmikan Presiden RI Joko Widodo pada 27 November 2015. Jalur kereta Double Track Lintas Utara Jawa Cirebon-Surabaya sepanjang 435 Km melewati 55 stasiun mulai beroperasi pada tahun 2014. Jalur ini menggunakan teknologi persinyalan Len Industri serta dilengkapi dengan perangkat telekomunikasi berbasis serat optic dibangun menggunakan.
Peran dalam memenuhi kebutuhan alutsista miiliter RI semakin signifikan. Kami antara lain menyediakan 734 Alkom Manpack Radio VHF untuk Kementerian Pertahanan, 40 radio perbatasan RI-Malaysia, CMS (Combat Management System) di 8 buah KRI, Sistem Interkom, serta pengembangan IFF (Identifier Friend or Foe) dan perbaikan Radar KRI.

 

2016 – 2019

Pemerintah gencar melakukan belanja modal atas proyek-proyek infrastruktur seperti pembangunan sarana dan prasarana perekeretaapian jalur mainline maupun urban transport, pembangunan infrastruktur telekomunikasi Palapa Ring, pembangunan pembangkit berbasis tenaga surya dan energi terbarukan lainnya. Hal ini memberikan angin segar terhadap pertumbuhan pasar. Proyek Palapa Ring Paket Tengah merupakan pembangunan dan pemeliharaan jaringan serat optik yang tersebar di 17 Kabupaten/Kota wilayah Indonesia Bagian Tengah. Penetrasi pasar di bidang financial technology dilancarkan baik melalui skema managed service maupun penjualan.

Melalui Sinergi BUMN, perusahaan berhasil merampungkan proyek strategis Skytrain Bandara Soekarno-Hatta, LRT Sumatera Selatan, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, hingga export perangkat persinyalan ke Bangladesh. Realisasi sinergi tersebut menjadi tonggak dimulainya kerjasama untuk penyelesaian proyek sejenis di wilayah kota besar lainnya maupun di tingkat regional.

 

2020 – sekarang

Kementerian BUMN RI merancang penggabungan BUMN dalam beberapa klaster. Dalam pembagian klaster ini, Len masuk ke dalam Klaster Industri Manufaktur Sub-klaster Industri Pertahanan dan ditunjuk sebagai ketua tim percepatan proses holding membawahi BUMN Industri Pertahanan lain, seperti PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT Dahana, dan PT PAL Indonesia. Pembentukan holding BUMN Industri DEFEND ID diresmikan pada tahun 2022.

Tahun 2020 juga merupakan tahun yang cukup sulit dan menantang bagi Len Industri. Adanya pandemi Covid-19 memberi berdampak signifikan pada kondisi bisnis dan keuangan perusahaan. Meski demikian, Len tetap mengusahakan untuk dapat menyelesaikan proyek-proyek tersebut dengan baik dan tepat waktu.

Beberapa proyek besar terbaru antara lain: Sistem Informasi Intelijen, CTDLS (Communication Tactical Data Link), Sintel Jatinegara-Bogor dan Manggarai-Jakarta Kota, 14.000 PJUTS (Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya) di 33 provinsi serta pembangunan sistem persinyalan dan telekomunikasi kereta Lintas Makassar-Parepare Trans Sulawesi. Selain itu, dalam rangka penanganan pandemi Covid-19, Len Industri bersama BPPT turut memproduksi perangkat emergency ventilator #BPPT3S-Len menggunakan desain dan komponen lokal dengan total produksi 153 unit ventilator.o