Pede Di Kereta Api, Len Siap Garap Bandara

Jakarta – Setelah percaya diri di bisnis sinyal kereta api, PT Len Industri (Persero) akan mulai menggarap bisnis sinyal transportasi udara. Beberapa proyek pembangunan bandara di Indonesia pun sudah mulai melibatkan Len.

 

Demikian diungkapkan oleh Abraham Mosse, Direktur Pemasaran PT Len Industri, kepada detikINET, Senin (28/9/2009). Menurutnya Len telah menanggani 80 persen persinyalan kereta api. Karenanya saat ini Len pun mulai melirik proyek sinyal navigasi bandara.

“Kita sudah 25 tahun terlibat proyek sinyal kereta api. Wajar jika hampir separuh pendapatan berasal dari lini sinyal transportasi tersebut. Pada 2008 lalu, total pendapatan kita berkisar Rp 500 miliar. Sekarang kita masuk ke sinyal transportasi udara,” katanya.

Namun hal tersebut tidak lah sama dengan proyek sinyal kereta api. Karena saat ini vendor asing masih mendominasi bisnis sinyal transportasi udara di Indonesia.

“Posisi kami di sinyal transportasi udara tidak sekuat mereka. Salah satu pemain besarnya adalah NISC, pabrikan elektronika mekanis asal Jepang. Padahal, secara bisnis dan teknis, tidak jauh berbeda dengan sinyal kereta api,” ungkapnya.

Kondisi ini mulai berbalik semenjak pemerintahan SBY-JK. “Saat Orba hingga awal reformasi banyak pinjaman luar negeri. Ini yang membuat instalatir sinyal oleh vendor asing. Tapi, sejak pemerintahan SBY-JK, pembiayaan perlahan diubah ke bank nasional,” ungkapnya.

Karenanya, imbuh Abraham, PT Len bisa menjadi pemenang proyek sinyal-navigasi transportasi udara di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, pada 2008 silam. Dalam proyek itu Len memenangkan tender sebesar Rp 63 miliar dengan menyisihkan sejumlah perusahaan elektronika asing maupun dalam negeri. Bahkan, kini mereka juga sudah menangkan tender baru.

“Kami baru memenangkan proyek sistem navigasi dan sinyal pada Bandara Udara Majalengka, Jabar. Namun pada proyek ini, kami tergabung dalam konsorsium di bawah PT Wijaya Karya,” sambungnya.

Meski proyek itu baru akan dimulai dalam beberapa waktu ke depan, namun sesuai dengan keahliannnya, teknisi PT Len sendiri sudah merancang desain sistem navigasi yang dibutuhkan dari bandara itu.

Abraham mengaku dengan skema konsorsium tadi, dirinya tidak hafal persis nilai kontrak dari pengerjaan di bandara yang rencananya berlokasi di Kecamatan Kertajati tersebut. Namun, dia menilai angkanya pasti strategis.

“Setelah Kertajati ini, kami juga tengah mengikuti proses tender di Bandara Kualanamu, Medan. Mungkin sebentar lagi juga akan ikut hal serupa pada rencana bandara internasional di Bali,” katanya.(afz / wsh)

Source :Hukum & Humas Len