Raja Belanda Kunjungi Indonesia, Len Industri Ikut Tandatangani 3 Kerjasama

Combat System (CMS)

BANDUNG (10/03/20) – Raja Belanda Willem Alexander melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 9-13 Maret 2020 dan bertemu dengan Presiden Joko Widodo pada Selasa malam, 10 Maret 2020.

 

Pertemuan kedua kepala negara antara lain membahas kerja sama bilateral di bidang ekonomi dan peningkatan sumber daya manusia. Selain bertemu Jokowi di Jakarta, Raja Belanda juga dijadwalkan mengunjungi kota Yogyakarta, Danau Toba, dan Palangkaraya.

 

Menurut Jokowi, Belanda merupakan investor terbesar pertama dan mitra perdagangan terbesar kedua dari kawasan Eropa. Neraca perdagangan kedua negara tahu 2019 lalu surplus Rp. 33,7 triliun (2,36 miliar dolar AS).

 

Diantara rangkaian kunjungan kenegaraan ini adalah dilakukannya sejumlah penandatanganan kerjasama Indonesia-Belanda yang langsung disaksikan Raja Willem Alexander, di mana 3 diantaranya dilakukan oleh PT Len Industri pada Selasa malam (10/03) di Shangri La Hotel, Jakarta.

 

Pertama, adalah penandatanganan kontrak modernisasi KRI Usman Harun (359) MRLF Bung Tomo Class antara PT Len Industri dan Thales. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Operasi II Len Industri Adi Sufiadi Yusuf dan Sales Director Asia Thales, H.J.G. Van Kimmenaede.

 

Pelibatan industri lokal seperti ini sesuai dengan ambisi pemerintah Indonesia agar industri pertahanan dalam negeri bisa lebih mandiri.

 

Zakky Gamal Yasin, Direktur Utama Len Industri menjelaskan, “Len Industri sangat berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah Indonesia, terutama Kementerian Pertahanan dan TNI AL. Kami ingin menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keunggulan TNI dalam menjaga kedaulatan negara. Di bidang (elektronika pertahanan) command & control, kami telah berhasil menyuplai maritime surveillance system dan tactical datalink yang sudah beroperasi dengan baik. Khusus dalam manajemen tempur (combat system), Len Industri telah berhasil melakukan memodernisasi sistem manajemen tempur (combat management system) di delapan (8) unit KRI milik Angkatan Laut Indonesia.”

Tandatangan Kontrak Modernisasi MLM MRLF Usman Harun 359 

Kedua, PT Len Industri menandatangani MoU (Memorandum of understanding) dengan PT Pertamina (Persero) dan HyET Solar BV Belanda tentang pilot project PV Fleksibel thin-film di SPBU Pertamina.

 

Dan yang ketiga, penandatanganan MoU antara Rohill Engineering B.V, PT Simoco Indonesia, dan PT Len Industri tentang lokalisasi Radio TETRA di Indonesia. Radio TETRA sebelumnya sudah diimplementasikan dalam sistem telekomunikasi pada pembangunan LRT Jakarta Fase I Velodrome-Kelapa Gading.

 

Program Efektif Meningkatkan Kemampuan Angkatan Laut Indonesia

 

Meski sudah berusia lebih dari 15 tahun, KRI Usman-Harun masih dalam kondisi sangat baik, namun mission system-nya sudah usang. Dalam ruang lingkup MLM (Mid Life Modernization), Len Industri dan Thales akan memasang TACTICOS Combat Management System, Radar pengawasan udara dan permukaan SMART-S Mk2, Radar STIR EO Mk2 dan Sistem kontrol penembakan EO, serta Vigile Mk2 tactical multi-purpose R-ESM system.

 

Erik-Jan Raatgerink, Thales Country Director di Indonesia dalam keterangan resminya menyatakan, “Kontrak ini menggaris bawahi hubungan yang sangat baik antara Republik Indonesia, PT Len Industri, dan Thales. Program ini akan memberikan kontribusi besar pada kemandirian industri pertahanan Indonesia dan meletakkan dasar yang kuat untuk kontrak Angkatan Laut di masa mendatang, baik untuk (kapal) baru maupun modernisasi.”

 

Dengan modernisasi ini, KRI Usman-Harun akan selevel dengan kecanggihan kapal kelas frigates Martadinata yang baru, tanpa harus membangun kapal perang dari awal. Program ini dapat memperpanjang waktu hidup kapal dan meningkatkan kemampuan Angkatan Laut dengan biaya lebih efektif.

 

Untuk melindungi kedaulatan wilayah laut Republik Indonesia, TNI Angkatan Laut harus memastikan MRLF (Multi-Role Light Frigate) KRI Usman-Harun dapat beroperasi penuh dan mampu menanggulangi kemungkinan ancaman terbaru. Program modernisasi dijadwalkan akan selesai pada paruh kedua tahun 2023.

 

Platform kapal sering kali memiliki siklus hidup yang panjang dan dalam banyak kasus terdapat manfaat besar untuk memodernisasi mission system agar dapat memfasilitasi pengembangan manajemen tempur dan sensor terbaru.

(**)